Tren Teknologi Perpustakaan 2026

Tahun 2026 akan melihat perpustakaan menghadapi tantangan baru dan yang sudah dikenal dari AI generatif, meningkatnya ancaman keamanan siber, serta adaptasi berkelanjutan sebagai respons terhadap kebutuhan komunitas.


Kehadiran AI yang Semakin Besar di Perpustakaan Akan Memerlukan Respons Kebijakan!
Bahkan ketika perpustakaan masih menentukan seperti apa hubungan mereka dengan AI generatif, teknologi ini terus menyusup ke dalam organisasi kita dengan cara yang semakin terlihat. Materi yang dihasilkan oleh AI kini umum ditemukan dalam koleksi digital perpustakaan, biasanya dalam bentuk ebook dan audiobook. Seiring pemustaka memperluas penggunaan AI dalam penelitian, staf harus mengantisipasi lebih banyak situasi di mana pemustaka mencari materi hasil halusinasi AI yang sebenarnya tidak ada.

Sementara AI generatif terus diintegrasikan ke dalam perangkat lunak populer (seperti Canva, Microsoft 365, dan Google Workspace), tahun 2026 akan melihat kehadirannya meluas ke solusi khusus perpustakaan. Misalnya, platform ebook Overdrive, Libby, telah meluncurkan fitur Inspire Me, yang menggunakan AI generatif untuk merekomendasikan materi yang tersedia saat ini kepada penggunanya. Ini merupakan titik masuk yang signifikan, karena lebih dari 90% perpustakaan umum di Amerika Utara menggunakan Libby.

Semua ini akan mencapai titik krusial, dengan staf dan pemustaka mencari kejelasan tentang sikap perpustakaan terhadap genAI di dalam perpustakaan, termasuk:

  • Konten yang dihasilkan AI dalam koleksi perpustakaan.
  • Penggunaan AI oleh staf yang diperbolehkan/dilarang.
  • Bantuan apa yang dapat diberikan staf kepada pemustaka yang menggunakan AI.


Harapkan tahun 2026 menjadi tahun penyusunan kebijakan AI perpustakaan, yang membantu menetapkan batasan dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian. Demikian pula, AI akan menjadi fokus yang semakin meningkat dalam pengembangan staf. Sejalan dengan itu, satuan tugas Association of College and Research Libraries (ACRL) telah menerbitkan AI Competencies for Academic Library Workers, sementara Public Library Association telah membentuk Transformative Technology Task Force untuk mengidentifikasi prioritas pelatihan dan mengembangkan sumber daya yang berfokus pada AI.


Kepatuhan ADA
Bergantung pada jumlah populasi wilayah layanan, entitas publik diwajibkan memenuhi Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.1 level AA paling lambat 24 April 2026 (populasi layanan lebih dari 50.000) atau 26 April 2027 (populasi layanan kurang dari 50.000). Mengingat pertumbuhan kehadiran digital perpustakaan selama dekade terakhir, perpustakaan harus menginvestasikan waktu yang signifikan untuk memastikan aksesibilitas situs web dan aplikasi seluler mereka, serta berbagai layanan, alat, dan platform digital dari vendor yang mereka gunakan. Organisasi harus memprioritaskan pelatihan yang mencakup pembuatan PDF yang aksesibel, penulisan alt text yang efektif, serta praktik terbaik untuk media sosial dan program hybrid/virtual.

Untuk organisasi yang masih dalam tahap perencanaan, situs web Americans with Disabilities Act menyediakan sumber daya First Steps untuk mencapai kepatuhan. Untuk sumber daya khusus perpustakaan, American Library Association memiliki halaman Library Accessibility Toolkits Resource yang mencakup panduan baru terkait aturan ADA terbaru. Terakhir, artikel American Libraries Magazine ini menawarkan beberapa tindakan sederhana namun berdampak yang dapat dilakukan.


Perluasan Library of Things
Perpustakaan umum menghadapi sejumlah tekanan pada koleksi mereka, termasuk gangguan rantai pasok pada bahan cetak setelah penutupan Baker & Taylor, serta meningkatnya tekanan finansial pada koleksi digital. Pada saat yang sama, terdapat minat publik yang semakin besar terhadap koleksi perpustakaan non-tradisional, seperti gadget, permainan, dan alat, yang umumnya disebut sebagai “library of things.” Koleksi ini sejalan dengan keberlanjutan, yang menjadi fokus yang semakin penting bagi perpustakaan dan telah ditetapkan sebagai nilai inti kepustakawanan oleh American Library Association.

Meningkatnya Ancaman Keamanan Siber
Dalam beberapa tahun terakhir, perpustakaan menghadapi ancaman yang semakin besar dari serangan ransomware, dengan target besar termasuk Seattle Public Library, Toronto Public Library, dan Orion Township Public Library di Michigan. Dengan meningkatnya AI generatif, non-ahli kini dapat membuat malware, sehingga meningkatkan ancaman secara keseluruhan. Selain itu, deepfake, kloning suara, dan output AI generatif lainnya meningkatkan kecanggihan serangan rekayasa sosial. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan kemungkinan terjadinya serangan siber dengan memperkuat infrastruktur, membatasi dampak intrusi, dan menyiapkan pemulihan yang cepat.

Risiko siber yang dihadapi perpustakaan juga meluas kepada para pemustaka! Meningkatkan kesadaran komunitas terhadap ancaman yang berkembang, mengedukasi mereka agar aman dalam menggunakan AI, serta menyediakan sumber daya berkualitas menjadi hal yang sangat penting!


Konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia, tantangan utama terletak pada kesenjangan infrastruktur dan belum meratanya pemahaman dasar tentang AI di kalangan pustakawan maupun pemustaka. Tidak semua perpustakaan memiliki kesiapan teknologi yang sama, baik dari sisi perangkat, jaringan internet, maupun kapasitas sumber daya manusia, sehingga adopsi AI perlu dilakukan secara bertahap dan kontekstual.


Kesenjangan ini juga berdampak pada operasional layanan, seperti potensi kesalahan informasi dalam layanan referensi berbasis AI serta kualitas pengolahan koleksi digital yang semakin bergantung pada hasil generatif.


Di sisi lain, pemanfaatan AI berbasis code membawa implikasi serius terhadap keamanan siber. Teknologi ini tidak hanya mempermudah pengembangan sistem, tetapi juga memungkinkan eksploitasi seperti prompt injection, pembuatan skrip serangan otomatis, serta identifikasi celah keamanan secara masif, bahkan oleh non-ahli. Namun demikian, AI juga dapat dimanfaatkan untuk pengujian keamanan dan peningkatan kualitas sistem secara lebih efisien.


Oleh karena itu, perpustakaan di Indonesia perlu memprioritaskan penguatan literasi AI dasar, penyusunan kebijakan internal yang adaptif, serta peningkatan kesadaran keamanan siber, agar mampu memanfaatkan teknologi secara strategis sekaligus mengelola risiko yang menyertainya.

💬 Ingin berdiskusi tentang artikel ini?

Bergabung ke Literatif Hub untuk komentar, forum diskusi, dan akses konten eksklusif.

Daftar Gratis →